Genjot DEWI MINUT MEMIKAT, Sekda Novly Wowiling Buka FGD Desa Wisata: Pariwisata Minut Bikin Korea Terkagum-kagum

Kalawat, viralberita.net – Dinas Pariwisata Minahasa Utara di bawah pimpinan Kadis Jein Barantian, SE. MSi menggelar Forum Group Discussion (FGD) Pengembangan Desa Wisata, di Sutan Raja hotel Desa Watutumou II Kecamatan Kalawat Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara, Senin (03/11/2026).

FGD ini bukan sekedar diskusi biasa. Kegiatan ini merupakan bagian dari terobosan inovasi daerah DEWI MINUT MEMIKAT (Desa Wisata Mandiri Terintegrasi dan Memikat) agar Pariwisata desa menjadi penggerak ekonomi desa yang mandiri dan berkelanjutan.

FGD dibuka langsung oleh Bupati Minahasa Utara Dr. Joune Ganda melalui Sekretaris Daerah Ir. Novly G. Wowiling.

Dalam sambutannya, Sekda Novly membagikan cerita membanggakan saat dirinya mendampingi Bupati mempromosikan pariwisata Minut di Korea Selatan.

“Kekuatan kita di Minahasa Utara ini sesungguhnya adalah pariwisata. Buktinya ketika saya pulang minggu lalu ke Korsel, saya presentasikan tentang pariwisata Minahasa Utara, semua terkagum-kagum,” ungkap Wowiling.

Menurutnya, Korea dan China sangat mengagumi kekuatan alam Minut, terutama lautnya.

“Ketika kita presentasikan dengan video-video laut, langsung wakil wali kota di Korea sampaikan, ‘Aduh, saya berkeinginan datang ke Minahasa Utara’. Itu karena ranking kekuatan alam kita yang sangat kuat, pantainya,” jelasnya.

Sekda menilai pariwisata Minut kini semakin lengkap dan tidak hanya mengandalkan pantai. Minut punya air terjun, punya Gunung Klabat, punya budaya, dan punya mangrove di Likupang. Jika dikemas menjadi satu paket atraksi, wisatawan akan puas.

“Apalagi ditambah dengan investasi besar yang masuk. Desember ini ada peresmian Hotel Bintang 5 Lihaga di Likupang Timur. Minggu lalu Pak Bupati juga baru letakkan batu pertama Hotel Bintang 5 Shangri-La di Budo. Kemudian ada juga hotel Medcove di Kema,” paparnya.

“Jadi orang datang berwisata, sambil bisa salurkan hobi golf. Apa lagi yang kurang di sini?”

Wowiling menegaskan, keberhasilan pariwisata Minut adalah hasil kolaborasi pentahelix. Ia mencontohkan dua desa yang selalu menjadi best practice, yakni Desa Budo dan Desa Darunu, yang berkembang karena kontribusi aktif pemerintah desa, perguruan tinggi, Asosiasi Desa Wisata, hingga publikasi media.

“Keputusan investasi pariwisata di Minut saat ini adalah akumulasi dari semua perbuatan baik yang sudah terkolaborasi dengan baik,” tegasnya.

Sementara itu, akademisi pariwisata Prof. Bet El Silisna Lagarense, MMTour., mengingatkan agar pengembangan desa wisata harus berkelanjutan dan melibatkan generasi muda.

“Minut sudah punya modal kuat sebagai destinasi super prioritas. Hotel bintang lima adalah bukti perhatian investor meningkat. Tapi jangan berhenti di infrastruktur dan promosi saja,” kata Prof. Bet.

Menurutnya, setiap desa wisata harus punya karakter dan produk unggulan yang berbeda, agar wisatawan punya alasan mengunjungi lebih dari satu desa. Yang paling penting adalah homestay yang layak agar wisatawan tinggal lebih lama dan uangnya langsung ke masyarakat.

“Kebersihan, pengelolaan sampah, dan perlindungan mangrove harus jadi perhatian utama. Kalau saya bawa tamu Australia ke air terjun Tunan, mereka bilang ‘waduh ini keajaiban dunia ini’. Potensi kita sangat luar biasa,” ujarnya.

Ketua Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) DPD Sulut, Christian Tambingon, turut menegaskan agar desa memahami regulasi.

“Desa wisata tidak bisa disamakan dengan wisata desa. Punya pantai atau air terjun saja belum cukup jadi desa wisata. Harus memenuhi kriteria dan regulasi terbaru dari Kementerian Pariwisata agar punya arah dan dasar hukum yang jelas,” katanya.

Kepala Dinas Pariwisata Minut, Jein Barantian, dalam statemennya menegaskan tujuan utama dari DEWI MINUT MEMIKAT.

“Melalui DEWI MINUT MEMIKAT, kita ingin setiap desa wisata di Minut itu mandiri, tidak bergantung terus pada APBD, terintegrasi satu dengan yang lain, dan yang paling penting memikat wisatawan untuk datang dan tinggal lebih lama,” ujar Jein.

Menurutnya, selama ini banyak desa merasa sudah jadi desa wisata hanya karena punya pantai atau air terjun. Padahal tidak sesederhana itu.

“Desa wisata harus punya cerita, punya produk, punya pengalaman. Wisatawan tidak hanya mau lihat pemandangan, tapi mau hidup bersama masyarakat, mau belajar budaya, mau makan masakan lokal, mau tidur di homestay yang bersih. Itu yang kita matangkan lewat FGD ini,” tegas Jein.

Ia mencontohkan Desa Budo dan Darunu sebagai best practice yang berhasil karena kolaborasi.

“Budo dan Darunu itu contoh nyata DEWI MINUT MEMIKAT berjalan. Mereka tidak jalan sendiri. Ada pemerintah desa, ada perguruan tinggi, ada ASIDEWI, ada media. Inilah pentahelix yang kita mau replikasi ke 12 desa lainnya,” tambahnya.

(3by)

Pos terkait