Minahasa Utara

BAKKIN Sulut Soroti Pengirimaan Eksavator Di Pelabuhan Munte Tak Sesuai Aturan

MINUT, VIRALBERITA.NET — Barisan Anti Korupsi Kolusi Dan Nepotisme (BAKIN) Provinsi Sulawesi utara menyoroti pengiriman Eksavator di pelabuhan Munte Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi utara (Sulut) diduga tak sesuai aturan.

Dari keterangan Ketua BAIKIN Sulut Calvin Limpek, berdasarkan informasi yang di dapat, saat ini pelabuhan Munte telah menjadi pelabuhan sebagai tempat penyebrangan alat – alat berat seperti Eksavator. Dari bulan Mei dan Bulan Juli 2023 kurang lebih sekitar 10 unit Eksavator yang dikirim melalui pelabuhan tersebut.

Pengiriman alat berat tersebut mendapat banyak sorotan dari berbagai kalangan, salah satu warga enggan menyebutkan nama nya mengatakan jangan jangan pelabuhan ini sudah menjadi pelabuhan bisnis alat berat.
“Apakah kapal Feri boleh mengangkut alat Eksavator? apakah harusnya alat tersebut di angkut di atas mobil baru muat di kapal. Kami meminta Bupati Minahasa Utara Joune Ganda untuk melihat keadaan ini, kami menduga ada kong kalikong dalam pengiriman alat Eksavator tersebut untuk mencari keuntungan sepihak, “ucap warga.

Calvin Limpek mempertanyakan hal tersebut. Limpek mengatakan Karena saat ini lagi marak alat berat yang di kirim lewat pelabuhan Munte, yang notabene pelabuhan atau kapal yang kami ketahui untuk pengangkutan barang yang berada di dalam kendaran atau truk. Tapi alat berat seperti exavator di muat di kapal feri apakah bisa?

“Apakah keamanannya bisa di jamin alat berat bersentuhan langsung dengan lantai kapal feri besi dan besi ketemu, apakah tidak akan terpeleset di saat berhadapan dengan ombak besar, ini bisa mengakibatkan terjadinya kecelakaan. Jangan nanti terjadi hal yang tidak di inginkan. Biasanya alat berat seperti ini di angkut dengan kapal barang bukan dengan kapal feri, “tutur Limpek.

Lanjut dia, yang terparahnya lagi diduga alat-alat berat ini akan di pakai di tambang yang berlokasi di kepulauan Sangihe. Kami berharap demi kemanan, alat berat seperti ini di angkut pakai kapal barang bukan kapal feri.

“Wajarlah masyarakat bertanya dan meminta Bupati lihat keadaan ini, karena saat ini masyarakat tau pelabuhan munte sebagai pelabuhan pengiriman barang bukan alat – alat berat eksavator, ” ujar  Limpek sembari menyampaikan, bahwa saat ini (24/7/2023) sudah ada alat yang sudah siap diberangkatkan dan tidak sesuai SOP.

Dikatakannya, sesuai dengan PM 103/2017 pasal 2 tertulis bahwa setiap kendaraan beserta muatannya yang akan diangkut menggunakan kapal angkutan penyeberangan wajib diketahui dimensi (tinggi) dan berat kendaraan.
“Kapal Feri (Ferry) adalah kapal yang digunakan untuk penyebrangan laut yang mengangkut penumpang beserta kendaraannya. Kendaraan yang diangkut pun bisa berupa mobil pribadi, bus, truk, ataupun semi-trailer. Ukuran kapasitas optimal kapal ferry ro-ro adalah 400 GRT dengan kapasitas penumpang adalah 240 orang dan kendaraan roda empat adalah 22 unit, “pungkas Limpek.

Rudy Rondonuwu selaku kepala pelabuhan munte saat di konfirmasi membenarkan hal tersebut, menurutnya kegiatan ini sudah sesuai aturan ijin yang ada.

Kepala dinas Perhubungan Minut Budyani Max Wurara, SH saat dikonfirmasi menjelaskan, untuk pelabuhan Munte memang telah dihibahkan dari kementerian Perhubungan RI kepada Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara. Tetapi, yang dihibahkan adalah gedungnya. Untuk masalah perijinan angkutan bukan kewenangan Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara atau dinas perhubungan Minut. Tetapi, ijin pengiriman alat dikeluarkan oleh balai pengelolaan transportasi darat Sulut.

“Dinas perhubungan Minut hanya sebatas retribusi tetapi ijin dan seluruh mekanisme pengiriman dikeluarkan Balai transportasi darat, ” jelas Wurara kepada Media ini saat di konfirmasi Media ini di Kantor Perhubungan Minut (24/7/23).

Penulis: Deibby Malongkade

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button